Derajat
Dunia ini, sudah tersakiti
Kehidupan ini, sudah jauh dari kata normal
Semakin banyak perselisihan hanya karena hal yang sepele
Terlalu banyak pertumpahan darah
Terlalu banyak air mata yang terkuras
Terlalu banyak jeritan yang mencekik
Jika saja jiwa yang lenyap dapat bicara, Manusia akan dibungkam oleh Fakta.
Andai binatang mengerti akan kosakata, "jika saja dunia ini tidak ada Manusia", Pasti itu yang terucap.
Entah apa yang kulakukan, Apakah itu sesuatu yang benar? ataukah hal yang salah, Apakah itu sesuatu yang patut dijadikan sebagai pedoman?
Apakah memikirkan sesuatu yang rumit tidak ada gunanya?
Dan apakah itu berarti sesuatu? Aku tak tahu.
Haruskah aku bertindak demikian? atau tidak, Aku tak tahu.
Ternyata penyesalan selalu datang diakhir, dan keputusan awal adalah langkah yang beresiko, karena hal itu menjadi penentuan kemana arah "singularity" berlanjut.
tapi tetap saja... terlalu mengerikan. Andai saja waktu itu aku tidak meremehkan orang 'itu', aku bisa belajar banyak darinya.
"Memangnya kenapa?
Ada apa?"
"Haruskah kuberitahu kau sesuatu?"
"Kalau memang harus katakan saja, aku ini teman mu"
"Baiklah, Aku akan beritahu segalanya, tapi jangan terkejut ya?"
"Baiklah, akan kusimak baik-baik"
"Sebenarnya....A-aku.... Suka.....Menindas"
"......"
Ini semua berawal sejak hari dimana seorang anak yang masih duduk di bangku SMP, anak itu tinggal di pedesaan yang sangat jauh dari kota.
Kala itu hidupnya terbatas, tidak seperti saat ini ketika ia sudah mulai merubah kebiasaan hidupnya di masa itu, banyak waktu yang terbuang untuk keinginan bukan kebutuhan.
Saat itu ia anak tahun kedua di SMP, tepatnya saat umurnya berusia 13 tahun, umur yang dimana seorang anak memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi, dan moment dimana seorang anak mencoba menelaah antara hal yang benar dan salah, dikala seperti inilah kepribadian anak Manusia terbentuk, Mulai dari segala aspek dijadikan satu kepribadian, atau satu Aspek dijadikan 2 Kepribadian..., Manusia memang misterius.
Singkat cerita, tanggal 4 April tahun 1992, pukul 4 sore, hari dimana para pelajar pulang sekolah, seorang anak bersama 4 temannya baru saja pulang dari sekolah, sekawanan remaja itu pulang seusai urusan disekolah selesai.
Seperti pada biasanya, sekawanan itu bercanda saat berada dipertengahan jalan pulang, namun kali ini mengambil rute yang berbeda, jalan yang biasa mereka lalui adalah tanah liat yang padat, kali ini aspal yang mengeras.
Sembari mereka dengan noraknya bereaksi ke sekitarnya yang berubah tidak seperti yang pernah mereka lihat.
Sepanjang jalan mereka menapaki jalan tersebut, banyak rumah semi modern yang jarang mereka temui di desa, menoleh sana sini dengan lugunya, sampai salah satu di antara mereka menemukan satu rumah yang berbeda dengan rumah lainnya, Rumah modern namun nampak tua.
Untuk pertama kalinya mereka melihat rumah yang megah seperti itu, temboknya bukan kayu lagi, melainkan bebatuan yang bahkan susunannya tidak tertutup semen, dan atap rumah yang unik, seperti model rumah tua orang eropa.
Anak anak itu tergakum melihat megahnya rumah itu,
"mengapa rumah bisa sebessr ini"
"sangat unik"
mungkin itulah gambaran dari ekspresi mereka.
Sekawanan anak itu mulai bertanya tanya, Siapakah pemilik rumah ini? dan anak anak itupun mulai mengeksplorasi area rumah tersebut, mulai dri pintu depan hingga belakang, banyak barang yang mereka tidak ketahui untuk apa, seperti mesin pemotong rumput, taman dalam rumah, dan pohon besar yang terdapat 2 tali menggantung pada pohon.
Ketika mereka sedang asik eksplorasi area tersebut, satu anak terbesit dalam pikirannya tentang rumah tersebut, apakah masih berpenghuni atau tidak, Seketika itu juga membuat 4 anak lainnya terdiam dan penasaran, tanpa pikir panjang pun mereka mencoba memanggil pemilik rumah tersebut. Mereka berniat masuk kedalam, namun mereka teringat Nasihat gurunya bahwa Sopan santun hal yang utama, sehingga mereka pun memanggil berkali kali sampai sang pemilik keluar, namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam.
Anak anak itupun semakin penasaran, 3 dari 5 anak mulai memberontak, dan 2 lainnya menyerah untuk memanggil sang pemilik, ketiga anak mencoba untuk menerobos masuk, namun dihalangi oleh 2 anak yang lain. disana mereka berdebat, dan adu mulut sehingga area tersebut menjadi lebih ramai.
Tanpa diduga oleh mereka, pintu rumah itu mengeluarkan suara, suara kunci yang sedang diputar, *clak pintu pun terbuka, sekawanan anak itu terdiam seribu bahasa, mereka takut akan dimarahi dan di adukan kepada orang tua mereka, namun kala itu yang menghampiri mereka bukan orang dewasa, melainkan anak seumuran mereka. Anak itu berkata :
"Kalian siapa?"
bernada rendah dengan ekspresi datar, anak anak itu menjawab dengan terbata bata
"k-kami a-anak dari d-desa sini" (hehehe...)
sambil tertawa tipis, 2 anak yang sebelumnya menghalangi ketiga anak yang mencoba untuk menerobos meminta maaf pada Anak sang pemilik rumah tersebut, ia meminta maaf akan kegaduhan yang mereka perbuat. Anak itu pun merubah Ekspresinya dari datar tanpa aura menjadi Senyum lebar berkilauan sambil berkata
"Tidak apa, aku senang ternyata bukan penjahat!" ujarnya.
lalu ketiga anak tadi berkata
"tidak mungkin kami penjahat hahaha, kami hanya penasaran", dan mereka pun mulai bicara mata kemata, pandangan mereka saling terhubung tidak menoleh ke arah lain.
Setelah lama berbincang, Gelap mulai mengikis Matahari, mereka pun izin pamit dan meninggalkan anak itu sendiri disana, tanpa curiga mengapa anak itu bisa sendirian disana.
Namun ada satu anak yang kritis akan hal tersebut, dan memiliki banyak pertanyaan terkait "Rumah" dan "anak" tersebut, malam harinya ia pun bertanya ke kedua orang tuanya mengenai apa yang anak itu temukan sore tadi, ayah dan ibunya menjawab
"tidak ada rumah seperti itu disekitar sini, sejak kapan ada?"
"hah, palingan itu hanya imajinasi anak anak" seolah mereka tidak percaya dan meremehkan anak tersebut.
Anak itupun tidak punya pilihan lain selain bertanya ke warga sekitar, malam pukul 7:15, anak itu pergi ke warung dan bertanya tentang Area baru yang sedang dibangun perumahan, dan ya orang dewasa yang berada disana menjawab sesuai yang anak itu inginkan, lalu anak itupun bicara soal Rumah megah diantaranya, para orang dewasa itu mulai bingung karena mereka tidak pernah mengetahui akan hal tersebut, tetapi tidak lama datang seorang pria yang bekerja diproyek tersebut, ia mendengar percakapan mereka dari kejauhan karena mereka sangat heboh membicarakannya, pria itu pun menjelaskan bahwa memang ada rumah besar diantara rumah rumah yang mereka bangun, namun rumah tersebut berada di ujung dekat hutan dari sudut Area perumahan itu, Pria itu berkata kalau rumah tersebut dihuni oleh satu keluarga, dan menurutnya Area rumah tersebut merupakan tanah Pribadi milik Keluarga, sehingga para pekerja disana tidak berniat untuk mengekspansi Area perumahan hingga menggusur rumah tua itu, Proyek tersebut hanya memberi jarak sekitar 10 meter dari garis yang akan dibuat tembok perbatasan perumahan ke rumah tersebut.
Namun Pria itupun mulai curiga akan keharmonis keluarga dalam rumah tersebut, mereka tidak pernah terlihat diantara Masyarakat, dan rumah itu selalu sepi seperti tak berpenghuni, kemudia Pria itupun bertanya pada anak tersebut, "kenapa kau bisa tau? apa yang kalian lakukan?" anak itu menjawab mereka hanya kebetulan menemukan rumah tersebut dan bermain disana sebentar, tetapi anak itu tidak menceritakan soal anak yang berada dirumah itu, Sehingga menimbulkan banyak misteri dikalangan warga pada malam itu.
Malam mulai larut, pukul 08:00 waktu dimana anak anak dilarang pulang malam, anak itu pun pamit dari warung dan kembali ke rumah, diperjalanan pulang ia banyak berasumsi, karena banyak yang tidak ia ketahui pikiran negatif dan positif pun bercampur aduk dikarenakan rasa penasarannya yang tidak terbendung, hingga ia pun memiliki ide untuk mengajak anak dari rumah tersebut bermain dengan ia dan teman temannya, dan ia berencana mengajak teman temannya nanti disekolah untuk datang kembali ke rumah tersebur pada akhir pekan nanti.
Selagi menunggu hari minggu mereka pun berdiskusi, permainan apa yang akan mereka lakukan nanti untuk menghabiskan waktu dihari minggu. mereka bingung karena mereka tidak tau anak yang mereka ajak 'main' nanti lebih suka berada dirumah atau luar rumah.
Singkat cerita, hari minggu pun tiba, pukul 08:00 mereka berencana datang kerumah itu bersama, hari yang mereka tunggu tunggu pun tiba, Aura semangat terpancar dari ekspresi mereka karena terakhir mereka bertemu dengan anak itu cukup lama, dan saat itu juga meninggalkan kesan yang cukup menarik bagi mereka, sehingga mereka tidak sabar untuk bersenang senang.
Lalh mereka pun tiba dirumah tersebut, mereka mulai memanggil pemilik rumah tersebut dengan kata "Halo, Ayo main" karena mereka tidak tahu nama anak tersebut.
Tidak lama kemudian anak itupun keluar dari rumah dan berkata
"oh, ternyata kalian lagi, lama tidak bertemu" dengan 'ramah', karena sambutan hangat tersebut itulah mereka sangat senang dan bersemangat.
Waktu kewaktu mereka habiskan untuk bermain, Gobak sodor, Kleci, Bite, Benteng, Balap Lari, banyak yang mereka lakukan disana sampai lupa waktu.
Waktu sudah siang, pukul 13:30, mereka pun mulai kelelahan dan beristirahat ditaman rumah tersebut, mereka pun mulai mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli cemilan dan minuman, namun karena rumah tersebut cukup jauh dari pemukiman warga, mereka pun mulai malas karena lelah dan malas berjalan jauh, kemudian anak pemilik rumah tersebut berinisiatif menawarkan beberapa gelas minuman dan cemilan, mereka pun berkata
"sungguh? Terima Kasih",
"tidak tidak, bukan masalah kok"
dan anak itu bergegas mengambil air dan cemilan dalam rumahnya.
Tidak lama kemudian anak itupun kembali dengan air dan cemilan ditangannya, mereka melanjutkan obrolan mereka dengan riang dan penuh tawa, karena terlalu asik, anak yang tdi malam bertanya pada warga tentang runah tersebut pun lupa akan tujuan aslinya, dan terbawa oleh arus kesenangan yang ia rasakan. Lalu, setelah mereka menghabiskan sajian yang diberikan, anak rumah tersebut mengajak 5 anak itu bermain lagi, tapi permainan yang mereka mainkan adalah Petak umpet, beberapa diantara 5 anak pun tertawa sambil berkata "ini sudah mau jam 5, kita bisa lakukan besok lagi, sehingga kita bisa puas memainkannya". Namun anak tersebut menolak dan mengucapkan kata kata yang menantang mereka, "Lebih baik sekarang, karena matahari sudah mulai tenggelam, tentu saja akan lebih mudah bersembunyi karena gelap, bukankah ini akan jadi lebih menyenangkan?" ujarnya, keempat anak tersebut pun mulai menyetujui ucapan anak tersebut dan berfikir bahwa ini hari minggu dan mereka ingin menghabiskan waktu untuk bermain (dasar bocil).
Tapi 1 anak dari 5 anak tersebut ragu untuk ikut bergabung, karena pikirnya ini sudah lebih dsri cukup dari bermain, tetapi ke empat temannya itu terus membujuknya dengan berkata "mumpung hari minggu hadir semua, minggu depan belum tentu lengkap begini", lama kelamaan anak itupun runtuh pendiriannya dan menuruti apa kata temannya 'bersenang senang tak kenal waktu'. Akhirnya mereka pun sepakat untuk lanjut bermain, tapi kali ini berbeda, Anak rumah tersebut memilih tempat bermain didalam rumahnya, karena ia pikir akan membosankan jika mainnya dihalaman rumah terus, tanpa pikir panjang kelima anak tersebut pun menyetujuinya dikarenakan mereka juga penasaran akan isi dari rumah megah tersebut, dan anak itupun mengajak kelima anak tersebut masuk, dan setelah didalam ruangan, anak itu mengunci pintu keluar.
Selagi kelima anak tersebut sibuk teralihkan akan kemewahan isi rumah tersebut, Anak pemilik rumah sibuk menutupi Jalan keluar untuk mereka, seperti pintu depan, jendela, loteng, dan pintu belakang. Lalu setelah selesai dengan urusannya iapun kembali ke tempat kelima anak itu berkumpul, dan mulai berunding siapa yang akan mencari dan siapa yang akan bersembunyi, Moment ketegangan dan keseruan yang mereka dambakan, bisa menjadi moment menegangkan dan manakutkan untuk kelima anak tersebut.
5 menit berlalu, permainan pun dimulai, Rumah besar dengan banyak ruangan dan terdapat lantai atas didalamnya pasti menjadi tempat yang mudah dan menyenangkan untuk bersembunyi, tetapi sayangnya sang pemilik rumah menjadi "sang pencari" sedangkan kelima anak tersebut menjadi "sang pengumpat", Anak pemilik rumah tersebut sengaja mengulur waktu, karena ia sudah hafal dengan Area rumah tersebut, mulai dari ujung ke ujung ia sudah tahu, dan mengapa ia bisa menjadi "sang pencari" di game ini? karena itu yang ia rencanakan dari awal.
Ia sengaja mengulur waktu agar anak anak tersebut larut dalam kesenangan dari permainan dan lupa bahwa waktu sudah semakin larut dan mengharuskan mereka pulang, tiap lorong yang dilewati, "sang pencari" selalu mengatakan kalimat bohong, seperti "dimana kaliannn~" berulang terus berulang, mereka yang bersembunyi pun mulai merasa jago dan yakin tidak akan ketahuan.
Lalu anak yang bersembunyi didapur pun mulai merasa tidak nyaman, dikarenakan terlalu sunyi dan gelap didapur itu, ia mulai panik dan berkeinginan untuk pulang, ditambah lagi ia terus mencium aroma yang tidak sedap ditempat ia bersembunyi, namun jika ia keluar dan mencari temannya, ia akan ketahuan pertama dan bisa saja ia yang akan menjadi "sang pencari" selanjutnya, yang apabila hal tersebut terjadi, akan membuatnya semakin tidak bisa pulang, iapun memutuskan untuk tetap diam sampai ada temannya yang ketahuan.
Dan kedua anak yang bersembunyi didalam lemari kamar, masih kegirangan dan cekikikan kecil didalam lemari itu, tanpa memperdulikan yang lainnya.
Lalu kedua anak lainnya, ia berpindah pindah tempat sembunyi, mulai dari lantai atas hingga ke kamar mandi lantai bawah, berulang kali mereka melewati punggung "Sang pencari" namun sang pencari berpura pura tidak mengetahui kalau mereka baru saja melewatinya, dan sampai ia berada dalam lorong menuju dapur, ia bergerak cepat dan tidak bersuara lagi.
Sepanjang permainan "Sang pencari" selalu berkata "Dimana kaliann~", "Susah banget kalian sembunyinya", namun kali ini tidak ada suara. Mereka yang bersembunyi didalam lemari pun mulai pindah tempat, dari kamar ke tempat makan, disana ia menemukan jendela namun terkunci rapat, anehnya jendela itu tidak terkunci dengan wajar, melainkan ada gembok yang mengunci jendela tersebut. Kedua anak itu sempat heran namun kembali melanjutkan permainan dan tidak tahu bahwa mereka sedang dalam bahaya. Lalu kedua anak lainnya yang sering berpindah pindah pun berencana untuk berpencar, mereka merasa akan ketahuan jika terus bersama, lalu mereka pun berpisah, satu ke lantai atas dan satu ke dapur.
Sebelum anak yang menuju dapur sampai ke dapur, ia mencium aroma aneh yang semakin jelas ketika ia berjalan ke arah dapur, aroma ini bukan aroma makanan, atau aroma masakan yang biasa ada didapur, tapi aroma segar yang cukup menyengat dan tidak sedap, ia pun penasaran dengan berjalan perlahan ke arah dapur tersebut, sesampai didepan pintu dapur ia mendengar suara besi yang seperti ditancapkan ketanah, *chap *chap, suaranya sangat jelas, namun suara tersebut dibarengi dengan suara air menetes, lalu anak itupun membuka pintu dan....
Ia melihat Anak rumah itu sedang berdiri membelakangi dia dan menghadap ke kompor disana, dikarenakan Area dapur gelap, dan minim cahaya anak itupun iseng dan mencoba merayap ke belakang anak rumah tersebut, ia ingin melakukan hal usil dengan mengendap endap ke arah anak rumah itu, namun saat mengendap ia mencium aroma tak sedap tersebut semakin kuat, ia pun menutup hidungnya dan tanpa sengaja,
ia...
menginjak...
genangan darah, ia mengira itu hanya air biasa yang tumpah, tpi tekstur air itu sedikit lengket dan bau, ketika ia sibuk dengan air yang ia pijak, ia menoleh kembali ke arah sang pencari, namun sang pencari itu hilang dari pandangannya, lalu ia berdiri dan melihat sekeliling tapi tidak mendapati anak rumah itu ada disekitar dapur, dan setelah anak itu melihat meja di dapur, ia melihat seperti potongan wortel yang berlumuran cairan merah, dan setelah ia sentuh teksturnya agak aneh, dan ketika ia mengarahkannya ke cahaya yang minim tersebut, ia terkejut, ternyata itu potongan jari, ia pun panik dan berteriak sangat keras, lalu ia berencana untuk pergi dan memberitahu teman temannya, namun "Sang pencari" berada didepan pintu dapur, menutup pintu tersebut sambil memegang pisau ditangannya, lalu sebelum anak itu menyuruh sang pencari untuk minggir, sang pencari langsung menusuk perut anak itu sebanyak 3 kali di bagian kanan dekat organ hati berada, lalu anak itu pun tumbang sambil merintih kesakitan, mencoba untuk berteriak tapi tenaganya habis untuk menahan sakit yang ia rasakan, Ketika melihat Anak tersebut kesakitan, Anak pemilik rumah tersebut tertawa dengan senyum sinis diwajahnya, sambil berkata :
"bagaimana rasanya? manis bukan? hihihi~"
anak itu semakin ketakutan dan kesakitan, rasa trauma mulai muncul dalam dirinya, tetapi sang pemilik rumah nampak menikmati ekspresi yang diciptakan Anak tersebut, ia semakin bergairah dan loncat kesana kemari dengan semangat, lalu ia punya ide untuk menambah rasa takut anak tersebut, yaitu menunjukkan Kepala temannya yang tersembunyi didapur ke hadapan wajah anak yang sedang merintih kesakitan itu, Anak itupun semakin syok, matanya terbelalat, ia kesulitan bernafas, kepanikannya sudah tidak bisa ia lawan, rasa sakitnya semakin sakit, rasa takutnya melebihi rasa sakitnya. Melihat ekspresinya itu, Sang anak pemilik rumah sangat menikmatinya sambil berbisik ke telinga anak tersebut,
"pemandangan yang indah kan?"
berulang kali ia mengatakan ke telinga anak itu, dan ia pun menggorok leher anak itu secara perlahan, sehingga anak itu akan membuat wajah kesakitan seperti yang di ekspektasikan oleh "Sang pencari".
Setelah selesai dengan urusannya, ia pun meletakkan kedua kepala anak tersebut kedalam lemari dibawah kompornya, namun karena tidak muat ia pun meletakkannya diatas meja, karena didalam lemari tersebut, terdapat potongan tubuh lainnya, dan juga terdapat potongan tubuh dan kepala dari orang tuanya. Ia berencana ingin menaruhnya di ruangan lain, agar aromanya tidak terlalu menyengat di dapur tersebut.
Berlanjut ke sisi Anak lain yang sedang bersembunyi, mereka berada diruangan yang berbeda, tetapi mereka sempat mendengar suara teriakan yang cukup keras lalu setelah itu hilang, mereka berfikir bahwa pasti ada diantara mereka yang ketahuan, sehingga mereka berteriak sangat keras seolah olah untuk memberi kode bahwa "Sang pencari" sedang berada disana, namun nyatanya bukan, Suara Teriakan yang mereka dengar seperti suara keseruan, ternyata suara yang berasal dari rasa takut terdalam.
Posisi berlanjut ke anak yang sebelumnya berpindah pindah tempat sembunyi, ia sudah mengitari sekeliling rumah tersebut selama setengah jam, di sepanjang jalan ia berkeliling dan terus menciun aroma aneh disetiap sudut ruangan, tapi ia tidak peduli dan berfikir itu hanya aroma tai tikus padahal ia tau aromanya sangat berbeda dari tai tikus pada umumnya, setelah ia berpisah dengan temannya yang mengarah ke dapur, ia pergi ke lantai atas menuju perpustakaan, ia lagi lagi terkagum dengan lemari buku yang menjulang tinggi dan banyak buku yang berada disana, ia berjalan perlahan dari sudut kesudut melihat lihat buku apa saja yang ada disana, sampai disuatu sudut, ia berhenti dan melihat jejeran buku hijau yang sangat banyak, buku itu berjudul "pont du diable". Judul buku tersebut sangat asing di telinga anak tersebut, namun saat ia buka, isinya menggunakan bahasa yang ia kenal, sehingga ia pun mulai membaca buku tersebut sambil duduk disudut ruang perpustakaan, halaman demi halaman ia ganti, sampai ia lupa kalau ia sedang bermain petak umpet dengan temannya.
Semakin ia baca, semakin ia bingung dengan isi buku tersebut, karena buku tersebut menggunakan bahasa yang cukup rumit dan jarang ia dengar dalam bahasa sehari hari yang ia gunakan, tetapi setiap halaman selalu menunjukan gambar gambar aneh yang mengerikan seperti monster, anak itu melihat gambar "jembatan tali", "manusia kepala domba", dan "rantai berbentuk bintang", Anak itu berfikir bahwa ini buku dongeng, ia menyimpulkan semuanya hanya sekedar melihat gambarnya saja, tanpa mengerti tulisan tulisan yang tarkandung didalamnya.
Cerita berpindah ke kedua anak yang sedang berada diruang makan, sebelumnya ia juga mendengar suara Teriakan yang sangat keras dan jelas, namun kali ini mereka tidak tenang, karena teriakan itu berbeda dengan teriakan dari biasanya, teriakan ini lebih seperti teriakan orang yang kesakitan, mereka mendengarnya sangat jelas, karena ruang makan tidak jauh dari ruang dapur, kedua anak itu tidak bisa berfikir positif, dikarenakan mereka melihat keluar jendela hari sudah semakin gelap, dan mereka belum selesai dengan permainannya.
Lalu kedua anak itupun memutuskan untuk menyerah dan menyelesaikan permainannya, mereka berencana ingin melanjutkan permainan esok hari, mereka memanggil teman temannya bersamaan, namun tidak ada jawaban sama sekali, lalu mereka pun memutuskan untuk menunggu di ruang lobby dekat pintu keluar, sambil menyebut nama teman temannya, tak lama kemudian Anak pemilik rumah itupun muncul dari arah kamar mandi, dengan ekspresi yang sangat senang se akan akan menikmati permainan tersebut, padahal ia hanya menikmati ekspresi orang yang kesakitan. Anak itupun bertanya
"kenapa kalian tidak bersembunyi?",
kedua anak itupun mengutarakan keinginannya "kami ingin udahan dulu, karena waktu sudah semakin gelap, aku takut kedua orang tuaku akan mencari ku, aku tidak ingin membuat mereka khawatir",
Anak pemilik rumah itupun menyutujui keinginan mereka, dan mencoba mencari teman teman mereka yang masih sembunyi.
Namun ditengah pencarian, Anak pemilik rumah terus mengalihkan perhatian kedua anak tersebut untuk tidak mendekati Area dapur, karena ia belum mengurus mayat yang baru saja ia bunuh dan jika ketahuan bisa gawat untuknya, dengan senyum hangatnya ia pun meminta salah satu dari kedua anak itu untuk berpencar, satu anak mencari ke lantai atas, dan satu anak lagi ikut mencari bersama Anak pemilik rumah, ketika anak yang disuruh ke lantai atas sudah pergi, mereka berdua pun melanjutkan pencarian ke kamar kamar yang ada dalam rumah tersebut, Anak pemilik rumah pintar bermain kata kata, ia terus berhasil mengalihkan fokus targetnya ke hal hal yang tidak penting, seperti saat ia sedang berada dikamar, ia mengenalkan barang barang nya, dan karena disana ada foto keluarganya, yang diketahui bahwa kamar tersebut dulunya adalah kamar kedua orang tuanya, kedua orang tuanya diduga dibunuh oleh Anak pemilik rumah, namun Keluarga besar nya mengira mereka meninggal karena di terkam oleh hewan liar di hutan ketika mereka sedang bertugas, anggapan itu semakin kuat karena jasad nya tidak ditemukan, tim penyidik sempat mencurigai orang orang disekitar rumah termasuk Anak pemilik rumah, tetapi mereka tidak berani mengungkapkan kejanggalan tersebut dikarenakan orang yang paling dekat dengan Kedua orang tua Anak pemilik rumah hanya si Anak pemilik rumah tersebut, mereka pun berfikir bahwa tidak mungkin anak anak melakukan pembunuhan, nyatanya mungkin. Anak pemilik rumah itu memberi tahu cerita tentang keluarganya kepada targetnya untuk mengulur waktu, dan alhasil anak yang ditargetkan itupun terpaku dan tertarik dengan cerita tersebut, mereka pun lagi lagi bersantai dan melupakan tujuan utamanya, dan lagi lagi ia berhasil mengelabui targetnya.
Ketika target sibuk mengotak atik barang barang unik yang ada didalam ruang tersebut, sang Anak pemilik rumah itu langsung menutup pintu kamar dan mengajak targetnya itu untuk berbaring diatas kasur orang tuanya, namun anak itu menolak, karena ia takut nanti terbawa rasa nyaman dan ketiduran karena ia tau kasur itu sangat empuk dan nyaman, tetapi si Anak pemilik rumah terus membujuk anak itu untuk mencobanya sedikit saja sambil mengotak atik barang yang sedang ia lihat lihat.
Kalimat kalimat manis pun terus dilontarkan oleh anak pemilik rumah tersebut, tetapi berulang kali juga Anak yang ditargetkan menolak ajakannya, sampai akhirnya Si Anak pemilik rumah kehabisan kesabarannya dan membentak anak itu untuk menurutinya, anak yang dibentak pun kaget dan heran
"Kenapa kau sampai segitunya?",
si anak pemilik rumah itu semakin bingung, karena ia sudah tidak tahan menahan hasrat membunuhnya, ia pun terus menggigit lidahnya dan tidak menjawab pertanyaan anak tersebut, disisi lain anak yang ditargetkan terus melontarkan pertanyaan yang sama dengan nada yang semakin lama semakin tinggi.
Emosi yang bergejolak dalam diri si Anak pemilik rumah itupun semakin tak terbendung, jiwanya mulai tidak karuan, ia mulai sulit menyembunyikan ekspresi seramnya dari wajahnya, ia semakin gila. Karena ia terus menahannya dan mencoba untuk tersenyum hangat tanpa harus menjawab pertanyaan itu, ia pun kelepasan, ia mengambil benda tumpul berupa asbak milik ayahnya dan berlari kearah anak tersebut dan mencoba untuk menghantam kepala anak itu dengan asbak, namun anak yang ditargetkan berhasil menahannya dan tersungkur di lantai sambil bertanya "woi kau kenapa?!", namun anak pemilik rumah tersebut tetap menggeram dan terus mencoba untuk memukul kepala anak itu, dan anak yang ditergetkan pun mencoba untuk berteriak sekeras mungkin sambil menahan serangan dari anak pemilik rumah, namun ketika anak itu sibuk berteriak, si anak pemilik rumah pun menangis, seketika tenaganya melemah dari sebelumnya, si anak yang ditargetkan pun bertanya,
"kau sebenarnya kenapa? apa kau kesal denganku?",
si anak pemilik rumah menjawab
"tidak...", sambil merintih. Lalu saat Si anak pemilik rumah tau bahwa targetnya lengah, ia langsung mencoba untuk memukulnya lagi, si anak yang ditargetkan pun sepontan melindungi dahinya, tapi yang di incar oleh anak pemilik rumah bukan dahinya, tetapi bibirnya, ia berencana untuk membungkam targetnya untuk tidak berteriak, sehingga ia ingin menghancurkan bibirnya terlebih dahulu, sayangnya anak yang ditargetkan tidak tau rencana si anak pemilik rumah, bibirnya ia pun harus rela terkena pukulan keras dari asbak, ia pun kesakitan dan tangannya mulai memegangi bibirnya, saat tangannya memegangi bibirnya, otomatis dahinya akan terbuka celah lebar, sehingga sang anak pemilik rumah merubah serangannya kedahi, dan serangan itupun mengenai tepat ditengah dahi anak tersebut, anak itu berteriak kesakitan, ia lalu menggunakan tangan kirinya untuk menahan tangan dari anak si pemilik rumah, dan tangan kanannya untuk melindungi wajahnya, namun itu tidak cukup, ia mencoba menghalangi tangan anak si pemilik rumah tetapi tidak dapat meraih asbak yang ada pada genggamannya. Anak pemilik rumah itupun langsung meraih tangan kirinya, dan menghantamnya dengan asbak hingga patah, tulang sikunya berbalik arah, dan membuatnya tidak bisa menggerakan 80% dari tangan kirinya, ia hanya bisa menggunakan lengannya. lalu anak itupun mencoba melawan kembali dengan tangan kanannya yang tadinya digunakan untuk melindungi wajahnya, tetapi apa gunanya, 1 tangan melawan 2 tangan itu sulit, dengan mudahnya anak pmilik rumah itupun menembus pertahanan tergetnya dan berhasil menghantamkan asbaknya yang keras tersebut ke arah wajah anak yang ditargetkan secara berkala, ia terus melakukannya sampai hidung dan mata targetnya tidak berbentuk lagi, dan targetnya pun hampir kehilangan kesadaran, dan anak pemilik rumah tersebut pun berhenti dan kesal, ia kesal karena ia tidak dapat melihat ekspresi ketakutan dari orang yang ia bunuh, yang ia lihat hanyalah ekspresi perlawanan yang sama sama ingin membunuh, dan ia pun menyadari bahwa targetnya masih setengah sadar dan membisikan ke telinga anak itu...
"sebenarnya aku tidak seperti yang kalian kira"
"aku mungkin berkesan cukup friendly bagi kalian"
"tapi ada rahasia yang akan ku katakan sebelum kau tiada" hihihi~ sambil tertawa tipis
"aaahh, kalian bodoh sekali ya, jika saja kalian tidak kemari, pasti jalur hidup yang kalian lewati tidak akan ke arah sini"
"kalian tau soal doppelganger? mana mungkin tau ya kan hahaha, kalian hanya sekumpulan anak kecil yang tidak tahu apa apa, tetapi aku berbeda..."
"doppelganger adalah bukan kembaranku, ia adalah diriku yang menjadi bayangan dalam diriku, hahah bukankah itu keren?"
"sayang sekali ya, ini jalan hidup yang kau pilih, andai tadi sore kau tidak terbujuk oleh ajakan temanmu dan melanjutkan pulang kerumahmu, ini tidak akan terjadi hahaha..."
"aku...suka....menindas mereka yang derajatnya lebih rendah dariku..."
"aku adalah anak suci, seperti yang dikatakan dalam buku hijau diruangan itu, anak suci tidak butuh apapun, dan akulah yang terpilih, kalian semua tidak pantas menjadi temanku"
"selamat tinggal~"
Anak yang ditargetkan itupun mengatakan hal kecil, ia berkata "...sialan k-kau...", anak si pemilik rumah pun akhirnya puas, karena ia berhasil mengintimidasi korbannya meskipun tidak melihat ekspresi kesakitan yang ia harapkan, dan ia pun tertawa "hahahah, kau bicara apa tidak terdengar bodoh!". Anak pemilik rumah tersebut langsung memenggal kepala anak itu persis seperti yang ia lakukan sebelumnya pada 2 anak di dapur, tetapi kali ini tidak ada ekspresi dari korban, karna korban lebih awal telah tiada, lalu iapun meletakkan kepala anak itu diatas kasur ayahnya tersebut sambol berkata :
"inikan yang sebenarnya tadi kau inginkan? berterima kasihlah hihihi~", iapun meletakkan tubuh anak tersebut dilemari ayahnya, dan berencana membakarnya dikeesokan harinya.
Disisi lain, anak yang sedang sibuk berada diperpustakaan,ia sudah membuka beberapa buku hijau yang berjejer dilemari buku, ia melihat hal hal yang aneh dan absurd yang tidak pernah ia temui dalam kehidupannya, anak itu pun semakin penasaran dengan maksud dari gambar gambar tersebut, sampai ia menemukan kalimat sederhana yang bertuliskan "pengorbanan, tidak pandang bulu", ia pun terdiam dan berfikir maksudnya apa, apakah pengorbanan yang dimaksud uang, makanan, minuman, atau mainan, begitulah yang terbesit dalam pikiran anak yang baru tumbuh remaja, lalu tidak lama temannya datang dan menemukan dirinya dan berkata
"apa yang kau lakukan woi?!, ayo kita pulang dan bantu aku mencari mereka yang bersembunyi", "hah? kenapa? bukankah kita masih main?",
"tidak, sudah semakin larut kita harus pulang", "anak pemilik rumah bagaimana?",
"ia juga menyetujui ku untuk menyudahinya", "baiklah kalau begitu, aku akan ikut", anak itupun beranjak dari tempatnya dan meletakkan kembali buku yang telah ia buka, dan bersama mencari teman temannya.
Ditengah perjalanan dilorong yang cukup panjang, mereka mengecek setiap ruangan yang ada dilantai atas, mulai dari kamar mandi, kamar, gudang, dan ruang musik, tetapi tidak menemukan siapapun, dan mereka pun melanjutkan pencariannya ke area bawah, dan dilobby tidak ada siapa siapa, lalu anak yang berada diperpus tadi berkata...
"kau bohong ya?"
"tidaklah bodoh"
mereka pun mulai berdebat kecil, saling mengejek, anak yang sibuk membaca buku memaki temannya kalau dia anak mamih, lalu temannya membalas kalau dia temannya tidak berguna, sedang bermain, malah keasikan sendiri.
Ditengah percekcokan itu, Anak pemilik rumah datang dari lorong yang panjang tepat setelah membunuh teman lainnya di kamar, ia menggoreskan pisaunya ditembok sehingga terdengar dari ujung lorong tempat temannya yang sedang berada dilobby.
Suara nyaring yang menggema dalam kegelapan terdengar sangat disturbing, lalu mereka yang berada dilobby pun mencoba untuk mencari saklar lampu, mereka mengira itu bukan anak pemilik rumah, mereka mengira itu maling, namun setelah dinyalakan, mereka melihat anak si pemilik rumah berlumuran darah dipakaiannya, mereka berdua pun kaget, dan berteriak
"apa yang kau lakukan?! dimana dia yang bersama mu? pisau itu?!"
"oi apa yang terjadi?"
si anak pemilik rumah itu langsung tersenyum lebar dengan pandangan melotot dan berlari ke arah mereka.
Namun anak yang sebelumnya berada di perpustakaan melawan anak pemilik rumah tersebut dengan melempar segala macam furnitur yang berada dalam ruang lobby tersebut, selagi ia melawannya, ia menyuruh temannya untuk membuka pintu keluar, namun pintu keluar dikunci dengan rapat. Mereka pun kebingungan, karena si anak pemilik rumah mengetahui bahwa perlawanan targetnya hanya untuk pengalihan, ia pun langsung mengincar targetnya yang sedang mencoba untuk membuka pintu, ia berlari sangat cepat bagai cheetah, badannya membungkuk, dan mata pisau mengarah kedepan tepat kearah sasarannya, namun usahanya tersebut berhasil dicegah oleh anak perpustakaan tdi dengan melempar vas bunga milik ibu si anak pemilik rumah ke arahnya, yang dimana vas itu mengenai kepalanya, dan membuatnya semakin kesal, lalu ia kembali mengincar anak yang melemparnya dengan vas bunga dan anak itu menlawannya dengan payung, yang memudahkannya untuk menjaga jarak selama pertarungannya, disisi lain anak yang berada dipintu bergegas ingin menyerang dari belakang namun lawannya sangat cepat dalam mengayunkan pisau, ia seperti sudah terbiasa dengan posau tersebut, sehingga ia mampu menahan serangan lawan dari kedua sisi.
Mereka pun kesulitan menghadapinya, jangkauannya sangat jauh, dan gerakannya sangat cepat, namun anak yang menghabiskan wsktu diperpustakaan tidak ingin mengulur banyak waktu, karena hanya akan membuatnya lelah, lalu ia pun teringat akan kalimat dari buku hijau yang ia baca, "pengorbanan tidak pandang bulu". Lalu ia dengan sedikit rasa takut dan keberanian, ia melempar payung tersebut ke arah mata si anak pemilik rumah untuk mengalihkan pandangannya, lalu memeluk anak tersebut sambil meraih tangan kanannya yang sedang memegang pisau, lalu mereka berdua tersungkur, dan anak itu memerintahkan temannya untuk memukuli wajah si anak pemilik rumah ini sampai ia lelah, lalu anak tersebut mengambil buku yang tebal yang ada di lemari disekitar lobby, lalu menghantamnya berkali kali, ia tidak berniat melukai si anak pemilik rumah, ia hanya ingin dia menyerah dan melepas pisau yang ada digenggamannya, terus menerus anak itu memukulinya dengan buku tebal, anak pemilik rumah tersebut tetap memiliki tenaga untuk melawan, lalu anak itupun menginjak batang hidungnya berkali kali sampai bunyi *krek, dan anak pemilik rumah itupun melepas pisaunya dan mulai berteriak sembari memegang hidungnya.
"arghhh!!!... hidungku!!..."
lalu anak yang menahannya melepasnya dan mulai memukul perut anak tersebut hingga anak itu lemas, dan iapun menanyakan soal kunci pintu utama ia letakkan dimana, tetapi anak pemilik rumah malah tertawa dan memaki mereka kalau mereka hanyalah orang bodoh. lalu anak itupun mulai memukulinya lagi, diarea lambung, diafragma, ulu hati, dan sisi organ hati berada, anak pemilik rumah kesakitan tetapi tetap tidak ingin memberitahu dimana kuncinya, dan ketika iya merintih kesakitan dan banyak gerak, kuncinya pun keluar dari kantong celananya, dan saat ia mengetahui kuncinya keluar dari celananya, ia tanpa sengaja berekspresi dan membuat lawannya mengetahui bahwa itu kunci yang penting, lalu anak tersebut mengambil kunci itu, dan ketika anak pemilik rumah mencoba melawan, kepalanya di injak oleh lawannya yang lain untuk tidak banyak bergerak, lalu anak itu mencoba membuka pintu, namun karena temannya hanya menahannya dengan kaki yang diletakkan dikepalanya, anak si pemilik rumah itu berhasil lepas dari genggamannya, dan kembali meraih pisau yang tidak jauh berada didekatnya. lalu setelah pintu berhasil terbuka, keduanya pun langsung berlari dengan cepat keluar rumah, tetapi sayang, anak yang berada dibelakang terkena serangan tusukan dipunggung, yang membuatnya kesulitan untuk berlari, sehingga temannya yang berhasik membuka pintu mau tidak mau harus membantu temannya itu berlari, disisi lain anak pemilik rumah itu mengejar, dan pertarungan pun berlanjut di halaman rumah.
Sang anak pemilik rumah tertawa, ia menganggap bahwa lawannya tidak akan bisa kemana mana, karna jarak rumahnya ke pemukiman warga cukup jauh, wilayah teraman dari rumahnya hanya berjarak 10m, yaitu lokasi dimana perumahan baru dibangun, namun perumahan tersebut dibatasi oleh tembok yang cukup tinggi, sehingga Sang Anak pemilik rumah berfikir lawannya tidak akan pergi kemana mana.
Disisi lain Anak yang berhadapan langsung dengan psikopat sudah menyiapkan mentalnya untuk pertarungan seperti ini, ia teringat bahwa ia sudah menyiapkan fisik dan mentalnya selama bermain di taman ataupun hutan bersama teman temannya, jadi dia percaya diri melawan anak rumahan itu yang bahkan tidak pernah keluar rumah. tetapi sebelum itu ia memikirkan temannya yang terluka dibelakangnya, ia pun meletakkannya cukup jauh darinya agar ia aman dari serangan.
Pertarungan pun dimulai, Sang Anak pemilik rumah berlari melingkar ke sisi kiri lawannya, dan ia pun memasuki area pertahanan lawan dengan berlari lurus tepat ke arah sasaran dan merendahkan postur tubuhnya agar sulit diserang, namun anak yang di incar dengan sigap menghindar tebasan dari anak si pemilik rumah dan mulai menyerang sisi kiri lawan dengan tendangan sabit kaki kanannya, si anak pemilik rumah menahannya dengan tangan kiri, dan menghindar ke arah kanan, lalu mulai menyerang ke sisi kiri, namun karna targetnya mengetahui dan lebih berpengalaman darinya, sang target mencoba untuk melakukan serangan 180° side kick sebelum pisau si anak pemilik rumah mengenainya, setelah anak itu menghindar iapun berencana untuk mengambil batu yang ada disekitarnya dan mulai melemparinya, tapi itu semua tidak cukup, anak pemilik rumah berhasil menghindari lemparannya, dan mulai menyerang secara brutal ke arah lawannya, lawannya sempat kewalahan, namun dia mampu menjigal kaki si anak pemilik rumah dari sisi depan dan membuatnya jatuh ketika posisi tubuhnya sedang sibuk menyerang, maka defense nya akan berkurang. ketika si anak pemilik rumah tersungkur, ia pun langsung memiting leher antar tersebut sampai ia tidak sadar, tetapi ketika ia sedang memiting leher anak itu, si anak pemilik rumah menusukkan pisaunya ke paha dia, yang sempat membu cengkramannya melemah, dan hampir melepasnya, namun ia tetap menahan tusukannya tersebut dan terus mengunci leher anak itu, setelah menerima lebih dri 5 tusukan dipahanya, si anak pemilik runah tersebut lemas dan jatuh pingsan, ia pun bergegas mengambil pisaunya dan melemparnya jauh jauh ke dalam hutan, pertarungan selesai.
Waktu menunjukan Jam 21:34 malam, ia kesulitan berjalan karna paha kanannya hampir robek seutuhnya akibat tusukan itu, namun temannya yang sedang menahan luka dipunggungnya itu memberi bajunya untuk menutupi paha temannya yang terus mengeluarkan darah tersebut, keduanya menangis kesakitan, mereka berdua mengalami trauma yang mendalam, rasa sakit yang tidak biasa mereka rasakan, terasa nyata pada malam itu, mereka sedih juga masih bingung, mengapa anak itu melakukan hal semacam ini, mereka masih terlarut dalam pertanyaan pertanyaan yang bahkan seorang pun tidak bisa menjawabnya, sembari menahan sakit ia juga sedih kepada nasib teman temannya yang belum mereka temukan didalam rumah tersebut, mereka ingin kembali ke dalam namun kondisi mereka tidak memungkinkan untuk naik tangga, dan mereka juga tidak mungkin mampu membopong mereka kalau seandainya temannya mengalami hal yang sama, pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk saling berbagi bahu, dan membiarkan urusan ini diurus oleh kepolisian esok harinya dan kembali ke Desa, mereka menelantarkan anak si pemilik rumah pingsan dihalaman rumahnya.
Sesampai mereka di desa, mereka melihat sekumpulan warga sedang ribut tak karuan, lalu salah satu warga tersebut melihat mereka yang dalam kondisi kacau dan memanggil warga lainnya untuk membantu mereka, para warga sempat bertanya..
"kalian darimana?"
Namun kedua anak tersebut tidak punya tenaga dan emosi untuk menjawab pertanyaan tersebut, yang mereka pikirkan adalah segera istirahat dan obati lukaku, lalu para warga pun memanggil kedua orang tua anak tersebut dan membawa mereka kerumah sakit.
Keesokan harinya kepolisian datang menemui mereka, kepala kepolisian bertanya kepada mereka tentang apa yang terjadi pada kalian tadi malam, kedua anak tersebur masih syok dan dengan tatapan kosong tidak menjawab pertanyaan kepala kepolisian itu, namun kepala kepolisian itu menyebut sedang mengirim anak buahnya untuk menyelidiki Area runah tersebut, Seketika membuat salah satu di antara mereka berdua bangun, dan meminta tolong kepada kepala kepolisian tersebut untuk menyelamatkan teman mereka, dengan wajah sedih dan panik didirinya. Kepala kepolisian itu langsung mencoba menenangkan anak agar ia lekas pulih dari lukanya, lalu setelah itu kepala kepolisian bergegas menuju lokasi dimana "Rumah" itu berada.
Sesampainya dilokasi, kepala kepolisian langsung memasuki Rumah tersebut, ia menemui mayat anak yang sedang tergantung di area lobby, anak itu mengikat lehernya dengan tali, lalu ia menggunakan tulang kepala kambing untuk dijadikan topeng, dan dilantainya dibuat lingkaran dan ada susunan rantai berbentuk bintang, lalu ditali tersebut dituliskan "pont du diable" menggunakan lilin merah, polisi menduga bahwa anak ini bunuh diri setelah melakukan kejahatan yang ia lakukan selama ini, ya benar anak itu adalah si Anak pemilik rumah, lalu petugas polisi melanjutkan penyelidikan ke Area dapur dan ditemukan 2 kepala anak remaja dimeja dapur, dan kepala anak remaja di tempat tidur, polisi juga menemukan pisau yang digunakan dan asbak yang retak untuk mengeksekusi korban. lalu polisi pergi keruang perpustakaan dan menemukan sejajaran buku hijau yang mencurigakan, polisi tersebut langsung menyita buku buku tersebut untuk diperiksa.
Buku tersebut berisikan tentang seorang pemuja setan yang ingin menghubungkan dunia manusia dengan dunia setan dengan seutas tali, dikatakan bahwa lurusnya seutas tali dapat dijadikan jembatan yang membentang untuk memasuki dunia lain yang bahkan tidak kita ketahui kebenarannya, ada banyak cara agar para manusia mampu memasuki dunia lain, dengan tali, pengorbanan, darah ataupun jiwa, tetapi semua itu tidaklah masuk akal jika tidak dibarengi oleh keyakinan, karena itulah manusia harus yakin kalau ia pasti mampu melewati seutas tali dan menempuh dimensi lain.
Lalu kepolisian tersebut mengungkapkan bahwa anak yang membaca buku ini dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari hari hanyalah mereka yang memilik masalah mental pada dirinya, sebaiknya seorang anak jangan dibiarkan berkelana sendiri, keingin tahuan mereka bisa menjadi petaka untuk kelanjutan umat manudia dan kehidupan yang ada dibumi, sehingga peras psikiater sangat penting disaat saat seperti ini, keluarga, teman, dan masyarakat.
Ada satu hal yang orang orang pada saat itu mengerti, bahwa Manusia lebih mengerikan daripada setan.
Selesai
Sekian cerita ini gua tulis, cerita ini hanyalah cerita fiktif yang berasal dari imajinasi gelap gua, yang dimana semua karakter, latar, kejadian, tanggal semua fiktif, karena itu gua tidak menggunakan sebuah nama manusia dalam cerita ini, karena hal tersebut memungkinkan dapat menyinggung seseorang dari pihak manapun, dan pesan gua untuk para reader tolong lebih bijak dalam membaca sebuah buku, agar kita tidak salah paham dalam memahami buku yang kita pelajari, sehingga kita benar benar memahami apa maksud dari buku tersebut, dan membuat penulis senang karena ada yang memahami maksud sebenarnya dari buku tersebut. Sekian Terima kasih telah membaca sampah ini hehew~
niat bet tolol lu
BalasHapusNgakak sama 'Dasar bocil'😭. Tp suka bet sama kata² di paragraf pertama. Bagus²👍🏻, imaginasi gelapnya😭😂
BalasHapusniat bang keren, tapi sudah saya baca semua kok arigato🙏
BalasHapusBang lanjutanya mana banh
BalasHapusGaring bet kontol
BalasHapusGaring
BalasHapusBet
BalasHapusKontol
BalasHapusKontol
BalasHapusKontol
BalasHapusBet
BalasHapusGaring
BalasHapus